Author : Ujang
LAHAT, LhL – “Jangan hukum kami seperti ini”. Ungkapan ini seperti yang diutarakan oleh salah seorang warga Desa Ulak Bandung, Kecamatan Kikim Barat, Kabupaten Lahat bernama Gusti Mardalena. Suara hati tersebut disampaikannya, lantaran sejumlah asumsi dan pemberitaan yang beredar, bahwa desanya sudah dianggap sebagai desa yang seluruh warganya sudah dicap seolah terpapar Covid-19, pasca adanya seorang warga pendatang yang meninggal dan diduga akibat positif Corona beralamat di desanya.
Dijelaskan Gusti, sejak munculnya pemberitaan di beberapa media sosial maupun media online yang langsung mengklaim seakan yang meninggal tersebut adalah warga berdomisili di Desa Ulak Bandung, Gusti dan masyarakat warga lainnya sangat merasakan dampak perubahan sosial kehidupan masyarakat dari daerah lain terhadap masyarakat desanya.
“Bukan lagi ada perubahan. Mobil Angdes dari Lahat ke Empat Lawang tidak ada yang mau mampir, saat orang dari Desa Ulak Bandung yang mau naik Angdes. Kalau ada orang Ulak Bandung pergi ke Pasar Tebing Tinggi, jangan kami ngomong kami dari Ulak Bandung, karena orang-orang justru langsung belari menghindari. Belum lagi sales yang biasanya ngisi barang dagangan di warung-warung di Desa Ulak Bandung, itu masih berfikir panjang mau masukkan barangnya akibat adanya oleh kabar ini. Karena desa kami sudah dicap terpapar Covid-19”, ungkap Gusti, Kamis (23/4/2020) malam.
Padahal menurut dia, korban almarhumah EYS yang meninggal kemarin itu bukanlah asli lahir di sana dan keturunan orang Desa Ulak Bandung, melainkan warga pendatang dari Medan, Sumatera Utara yang bekerja sebagai karyawan di Basecamp PT. SMS. Diakuinya, bahwa korban merupakan warga yang tercatat sebagai warga Desa Ulak Bandung. Akan tetapi, selain korban ini tidak pernah tinggal di Ulak Bandung, warga Desa Ulak Bandung juga tidak pernah berhubungan dengan si korban sebelum dan sesudah korban sakit ginjal, apalagi sampai membesuk ke Rumah Sakit tempat di mana korban dirawat.
“Sepengetahuan aku tidak ada warga kami yang pernah kontak erat langsung ataupun jenguk korban di Rumah Sakit di Lubuk Linggau. Terutama kami yang tinggal di Ulak Bandung. Terus terang bukan kami tidak mau mengakui korban beralamat di desa kami, tapi yang kami bantah cuma ada kabar yang menyebut korban berdomisili sehari-harinya bukan di Ulak Bandung, tapi di basecamp PT. SMS ynag letaknya sekitar 1 jam perjalanan dari desa kami. Karena memang si korban ini tidak pernah tinggal di Ulak Bandung, bahkan sanak familinya juga tidak ada yang tinggal di Ulak Bandung”, kata Gusti mengaskan.
Gusti dan warga lainnya mengaku sangat terpukul dengan kondisi ini, karena semua orang langsung berasumsi negatif tentang warga dan desanya dengan landasan yang tidak jelas, terlebih masyarakat Desa Ulak Bandung langsung dicap terpapar virus itu. Sedangkan semua orang juga tahu, bahwa walaupun sudah meninggal,tapi korban itu belum bisa divonis positif Corona. Sebab statusnya masih PDP dan masih menunggu hasil Swabnya.
“Kalau bicara kecewa, bukan lagi kecewa dengan adanya berita yang tidak jelas itu. Hari ini saja kami sudah merasa ada imbas dari berita itu, mobil taksi jarang yang menerima penumpang dari desa kami. Untuk diketahui, korban ini bukanlah lahir di Desa Ulak Bandung, keluarganya ada 2 orang orang tua dari korban, 4 bersaudara termasuk korban dan satu lagi sauadaranya merantau. Korban punya 1 orang anak dan suami, jadi mereka di basecamp itu ado 7 orang”, urai Gusti.
Selaku warga Desa Ulak Bandung, Gusti berharap agar warga desa lain atau orang lain untuk tidak terlalu takut dan panik untuk lewat dan bertemu dengan warga dari desanya. Jusrtu ia berharap, supaya warga desa lain itu mendo’akan supaya warga Desa Ulak Bandung sehat semua dan terhindar dari virus ini.
“Jadi, kami minta jangan hukum kami seperti ini. Cukup jaga-jaga, tapi jangan ditakut-takuti. Apalagi jenazah almarhumah dimakamkan lumayan jauh dari pemukiman masyarakat”, pintanya.
Ungkapan Gusti ini nyaris senada dengan apa yang direlease oleh Katua Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Lahat, Cik Ujang, SH didampingi Kadinkes, Ponco Wibowo, SKM, MM melalui Juru Bicara (Jubir)nya, Taufik Maryansah Putra SKM, MM. Menurut Taufik, memang ada penambahan 1 PDP di Kabupaten Lahat yang meninggal setelah sempat dirawat di sebuah RS di Lubuk Linggau, linggau, namun korban sebelumnya korban sedang mengalami masa pengobatan penyakit lain yang akut.
“Sekarang kita lagi menunggu hasil sedang proses pemeriksaan Swab di Palembang. Memang hasil RDT (+), tapi ini belum bisa dikatakan positif covid dan harus menunggu hasil swab dari palembang untuk menegakkan diagnosa covid-19. Korban ini baru terindikasi covid 19, hasil Swab nanti bisa positif atau negatif”, terang Taufik.
Jadi, harap Taufik, masyarakat tidak usah panik dan terlalu takut. Semua sudah dijalankan secara SOP dan protokol kesehatan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Taufik menghimbau, supaya jangan mengstigmasi negatif keluarga almarhumah PDP atau menghakimi.
“Kami sudah melakukan protokol kesehatan terhadap keluarga dekat, untuk tracking kontak erat dan ikut dari zona terjangkit. Untuk masyarakat, tetaplah tenang, jangan panik atau terlalu takut serta tetap waspada. Patuhi himbauan Pemerintah, wajib pakai masker, sering cuci tangan, prilaku hidup bersih dan sehat, asupan gizi yang cukup, istrahat cukup, tunda perjalanan, jaga jarak atau fisikal distancing, olahraga. Yang terpenting rajin berdoa, mudah-mudahan imun badan kita kuat dan tidak tertular Covid-19”, tutup Taufik.
Editor : RON
Lahat Hotline






