AUTHOR : AZHARI
MUARA ENIM, LhL – Benturan-benturan antara Islam dengan kekuatan Eropa menyadarkan umat Islam, bahwa jauh tertinggal dengan Eropa. Hal ini disampaikan oleh Ketua Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia Cabang Muara Enim H. Taufik Rahman pada Minggu (17/9) di kediamannya
Menurut Taufik, yang merasakan pertama persoalan ini adalah kerajaan Turki Usmani yang langsung menghadapi kekuatan Eropa yang pertama kali.
“Kesadaran tersebut membuat penguasa dan perjuangan-perjuangan belajar dari Eropa’, ujarnya
Guna pemulihan kembali kekuatan Islam, lanjut dia, maka Islam mengadakan suatu gerakan pembaharuan dengan mengevaluasi yang menjadi penyebab mundurnya Islam, dan mencari ide-ide pembaharuan dan ilmu pengetahuan dari Eropa. Gerakan pembaharuan tersebut antara lain, pertama Gerakan Wahabiyah yang diprakarsai oleh Muhammad Ibnu Abdul Wahab( 1703-1787) M di Arabia, Syah Waliyullah (1703-1762) M di India dan gerakan Sanusiyah di Afrika utara yang dikomandoi oleh Said Muhammad Sanusi dari Al Jazair.
“Gerakan penerjemahan karya-karya barat ke dalam bahasa Islam dan pengiriman para pelajar muslim untuk belajar ke Eropa”, kupasnya.
Taufik juga mengatakan, dalam gerakan pembaharuan sangat lekat dengan politik. Ide politik yang pertama muncul yaitu Pan Islamisme, atau persatuan Islam sedunia yang digencarka oleh gerakan Wahabiyah dan Sanusiyah. Setelah itu, diteruskan dengan lebih gencar oleh tokoh pemikir Islam yang bernama Jamaludin Al Afgani.
Menurut Jamaludin, untuk pertahanan Islam, harus meninggalkan perselisihan dan berjuang di bawah panji bersama, dan juga berusaha membangkitkan semangat lokal dan Nasional negeri-negeri Islam. Dengan ide yang demikian, ia dikenal atau mendapat julukan bapak Nasionalisme dalam Islam..
“Gagasan atau ide Pan Islamisme yang digelorakan oleh jamaludin, disambut oleh raja Turki Usmani yang bernama Abdul Hamid II ( 1876-1909) dan juga mendapat sambutan yang baik di negeri-negeri Islam”, jelas Taufik
Akan tetapi, imbuh Taufik, setelah Turki usmani kalah dalam perang dunia pertama dan kekhalifahan dihapuskan oleh Musthofa Kemal (Seorang tokoh yang gagasan Nasionalisme), rasa kesetian kepada negara kebangsaan. Di wilayah Mesir, Syiriah, Libanon, Hijaz, Afrika utara, Bahrein dan Kuwait, nasionalismenya bangkit dan Nasionalisme tersebut terbentuk atas dasar kesamaan bahasa.
Dalam penyatuan penyatuan negara Arab dibentuk suatu liga yang bernama liga arab, yang didirikan pada tanggal 12 maret 1945. Di india terbentuk gerakan Nasionalisme yang diwakili oleh partai kongres Nasional India dan juga dibentuk komunalisme, yang digagas oleh komunalisme Islam dan disuarakan oleh liga Muslimin yang merupakan saingan bagi partai kongres Nasional. Di india terdapat pembaharuan yang bernama sayyid ahmad khan ( 1718-1898) iqbal (1876-1938) dan muhammad Ali Jinnah 9 (1876-1948).
Di indonesia, terdapat pembaharuan atau partai politik besar yang menentang penjajahan diantaranya, Sarekat islam (SI) di pimpin oleh HOS Tjokroaminoto berdiri pada tahun 1912, dan merupakan kelanjutan dari Sarekat Dagang Islam yang didirikan oleh H. Samanhudi tahun 1931.
“Kemudian Partai Nasional Indonesia (PNI) yang didirikan oleh Sukarno 1927, lalu Pendidikan Muslimin Indonesia (PNI – Baru) didirikan oleh Muhammad Matta pada tahun 1931″, tutupnya.
Editor : Zadi
Lahat Hotline





