Home / LAHAT METROPOLIS / Kecamatan Mulak Ulu / “NUNGGU GHEPANG” MUSIM TAHUNAN BUAH DURIAN YANG DINANTIKAN

“NUNGGU GHEPANG” MUSIM TAHUNAN BUAH DURIAN YANG DINANTIKAN

Author : Jack Mania

MULAK ULU, LhL – Nunggu ghepang merupakan kebiasaan masyarakat di pedesaan dalam menanti jatuhnya buah durian dari batangnya. Momen yang turun temurun seperti ini, dilakukan ketika musim durian sudah mulai matang.

IMG-20170630-WA0084

Tradisi nunggu ghepang ini, memang memang hanya dilakukan oleh setiap orang yang memiliki kebun durian atau dalam bahasa daerah lahat disebut ghepang. Dengan pondok seadanya yang terbuat dari bambu atau kayu, yang dibuat di tengah kebun durian sebagai tempat bermalam dan menunggu durian jatuh.

Kegembiraan pun tampak terpancar di wajah si pemilik kebun, apalagi jika pohon durian berbuah lebat, karena begitu terdengar suara buahnya jatuh dapat dipastikan buah dutian tersebut matang. Penunggu ghepang pun langsung mengambilnya untuk dibawa ke pondok.

IMG-20170630-WA0083

“Kadang-kadang belum sampai ke pondok, sudah ada lagi yang jatuh, itulah asyiknya nunggu ghepang”, cerita Ini, seorang warga Desa Geramat saat dibincangi di kebun durian, Jumat (30/6/17).

Lahathotline.com juga menemui langsung seorang pemilik kebun durian, Rulani yang berasal dari Desa Geramat Kecamatan Mulak Ulu, yang sedang nunggu ghepang, guna untuk mengulas dan berbagi cerita pada pembaca tentang nunggu ghepang di kala musim durian tiba.

Baca Juga   TRIPIKA MULU SAKSIKAN WARGA TERIMA KONPENSASI JALUR SUTET¬†

Rulani banyak menceritakan tentang keasyikkannya nunggu ghepang. Menurutnya, kalau buah durian sudah mulai matang, yang punya kebun durian harus mengadakan hajatan dulu atau sedekah makan bubur alias bubugh dehian, ini pertanda musim durian sudah tiba. Dengan memohon pada Tuhan dan penguasa hutan, agar jangan ada halangan dan bahaya selama nunggu ghepang.

“Kite harus sedekah bubugh deghian kuda antak ke nunggu hepang, itu tradisi isan di jaman dulu minta jauhka balak dan bahenye, karene ye galak buah dehian bukan kite saje, binatang buas seperti Babi dan Nek Puyang (Harimau) juge galak, udem mangke kite dide timpe dehian,” tegas beber Rulan.

Kalau tradisi itu masih dilakukan, ujar dia, maka siapapun yang nunggu ghepang akan diberi ketenangan.

“Mudah mudahan kita tidak merasa takut, walau berada di ghepang siang dan malam,” katanya menambahkan.

Suasana nunggu hepang itu sangat asyik, apalagi kalau durianya sangat lebat. Jadi kalau ada yang jatuh perasaan sudah senang, senangnya itu pas dengar suara durian menimpa dedaunan dengan suara menggerapas dan cebuk.

Baca Juga   Kapolsek Mulak Ulu Beserta Istri Berbagi Nasi Kotak dengan Pemulung

Ivan, warga setempat yang kebetulan singgah di pondok ikut mengisahkan. Dulu, beberapa tahun yang lalu sebelum buah durian laku di pasaran, kalau buah durian sudah ada yang jatuh dibiarkan terlebih dahulu, kalau sudah banyak baru diambil, dengan membawa kinjagh atau Bake (sejenis keranjang).

“Setelah nenumpuk buah di pondok, baru dibuka kulitnya untuk dibikin tempoyak. Jadi daerah Mulak Ulu ini terkenal paling banyak tempoyak dengan kwalitas yang bagus”, paparnya.

Berbeda dengan saat ini, lanjut Ivan, apabila sudah ada buah durian jatuh, harus segera diambil, apalagi kalau jatuhnya malam, karena kalau tidak, bisa diambil oleh orang lain yang di sebut orang nyurook, karena durian sudah laku dipasaran dengan harga yang menggiurkan.

“Amu dide cepat kite ambik dehian umban tu..surookki jeme. Apalagi sekarang durian mahal, jadi banyak orang yang mencari durian di tengah malam atau biasa di sebut berayak, jadi kita betul betul tidak tidur semaleman,” pungkasnya.

Inilah sekelumit kisah tradisi tahunan nunggu ghepang tatkala musim durian tiba, seperti yang sedang berlangsung di Kecamatan Mulak Ulu saat ini.

Editor : Yadi

Check Also

PPK Kecamatan Mulak Ulu Lantik 308 KPPS Pemilu Tahun 2024

Author : Ivi Hamzah MULAK ULU, LhL – Bertempat di halaman kantor camat Mulak Ulu, …

SMM Panel

APK

Jasa SEO