” Dua Bidang Kebun Jagung Warga Gagal Panen.

Author : Ramson
GUMAY TALANG, LhL – Akibat hujan yang deras dan lama pada Kamis malam Sabtu (15/2/19) membuat Sungai Jelatang terletak di perbatasan Kecamatan Gumay Talang dan Kecamatan Pseksu, meluap. Banjir ini, spontan mengakibatkan Lalu Lintas (Lalin) kendaraan dan warga yang akan pergi ke kebun lumpuh total. Selama kurang lebih tiga jam, air dengan setinggi paha orang dewasa memenuhi jalan antar kecamatan itu.
Banjir ini, pun tak hanya membuat jalan yang mengalami kemacetan, namun banjir juga merugikan para petani palawija, yang mempunyai lahan kebun di pinggir sungai tersebut.
Seperti dialami Mita (34) warga Dususn III Bemban, Desa Lubuk Atung, Kecamatan Pseksu yang berprofesi sebagai petani, Akibat banjir ini, ia harus merelakan apa yang telah ia tanam selama ini, seperti tanaman cabe, terong, jagung dan lain lain,
Diceritakan Mita, baru tadi malam ia berbincang dengan suaminya, bahwa ia ingin memanen jagung dan sayur di kebun tersebut. Namun pada saat ia akan pergi ke kebun, sontak ia terkejut dan merasa sedih ketika tiba tiba melihat Air Sungai Jelatan sudah meluap dan banjir mengepung kebunnya.
“Bahkan, air sungai sudah membesar hingga menutupi badan jalan. Padahal hanya itu yang bisa saya lakukan untuk membantu suami dalam menopang ekonomi keluarga. Tapi sekarang semuanya sirna, ludes tergerus air sungai yang banjir dan deras”, tutur Mita dengan mata yang bercaka-kaca dan mimik muka yang penuh dengan kesedihan.
Selain itu, Saimi (57) warga Desa Sugi Rawas Tiga, Kecamatan Gumay Talang, Kabupaten Lahat juga mengalami kerugian yang cukup besar akibatkan banjir tersebut. Pasalnya, kebon milik Saimi yang berdekatan dengan Mita, jauh lebih parah banjirnya,
“Padahal hujan tadi mulai fajar tadi sekitar jam 2.30, dak begitu deras. Namun lama, hingga sampai pagi. Biasanya hujan seperti tadi itu, tidak membuat air di Sungai Jelatang meluap dan banjir. Nah, aku kira ini bajir kiriman dari ulu sungai,” cetusnya.
Selain kerugian yang terjadi pada para petani, banjir itu juga berdampak pada para siswa siswi yang hendak berangkat ke sekolah di SMP dan SMA Kecamatan Gumay Talang. Akibat banjir, beberapa siswa dan siswi harus pulang ke rumah masing masing.
Febki, salah satu siswa yang harus pulang kembali ke rumahnya karena ia dan sepeda motornya tak bisa meneruskan perjalanan ke sekolah.
“Terpaksa saya pulang, karena ketika saya lihat seorang warga yang menyeberangi sungai, air sudah melewati lutut. Jadi saya pikir motor saya pasti dak pacak lewat, maka dari itu saya putuskan untuk pulang kerumah”, ujarnya.
Tak hanya itu, Febki dan ke empat temanya, Wan, Anto, Aan dan Riki berinisiatif utuk memanfaatkan keadaan, dengan cara menawarkan jasa angkutan (Ngojek) ke arah kampung.
“Melihat sungai tak surut-surut, maka kami berlima sepakat untuk menawarkan jasa terhadap warga yang sedang menunggu air surut. Yaitu menyeberangkan sepeda motor mereka, dengan imbalan sepuluh ribu rupiah per motor. Alhamdulillah ada beberapa motor yang kita diseberangkan, jadilah cukup untuk isi bensin ke sekolah beberapa hari ke depan,” terangnya.
Editor : Ahmad
Lahat Hotline





