TENTANG ETIKA BURUK OKNUM JURNALIS DI BUMI SEGANTI SETUNGGUAN
Di siang hari, ia lantang berkhotbah soal moral.
Di malam hari, ia justru menjadi jamaah setia di altar hiburan malam.
AH, seorang yang berlabelkan kartu pers simbol profesi yang katanya menjunjung etika, integritas, dan tanggung jawab sosial justru menjelma menjadi “penjahat moral” di dunia yang selama ini ia kutuk. Di wilayah kerja Kabupaten Lahat, Bumi Seganti Setungguan, ia dikenal sebagai figur yang gemar menggaungkan slogan anti prostitusi dan anti hiburan malam.
Di ruang publik, ia tampil seperti polisi moral, siap menghakimi siapa saja yang dianggap menyimpang. Namun ironi tak pernah kehabisan bahan bakar. Di balik layar, justru ia menjadi pelaku sekaligus penikmat dari apa yang ia kutuk.
Hipokrisi kini bukan sekadar dosa, tapi profesi sampingan.
Fenomena ini bukan baru. Di negeri ini, banyak yang gemar mengangkat mikrofon moral, tapi lupa mematikan kamera nurani. Mereka mengutuk gelap sambil bersembunyi di dalamnya. Mereka mencaci lumpur sambil mandi di kubangan yang sama.
Kartu pers di dada berubah menjadi kartu VIP hiburan malam. Retorika di siang hari berubah menjadi transaksi di malam hari.
Publik pun bertanya:
Apakah ini wartawan, aktivis moral, atau hanya aktor yang lupa melepas topeng?
Dalam dunia yang serba teatrikal, AH hanya satu dari sekian tokoh yang pandai berakting.
Bedanya, panggungnya bukan sinetron melainkan realitas yang ia khianati sendiri.
Karena di Bumi Seganti Setungguan, terkadang yang paling keras berteriak soal moral, justru yang paling takut jika lampu dinyalakan.
Lahat Hotline



