Author : Prima
LAHAT – Petani lahan tadah hujan di Kelurahan Bandar Jaya mengalami dampak kemarau. Akibatnya lahan sawah mereka kekeringan dan padi yang ditanam gagal panen. Senin ( 30/07).
Petani harus memanen dini dan ada sebagian yang tak bisa dipanen atau istilah mereka “mati gadis.
” Mati gasid maksudnya bulir padi tidam berisi karena panen belum waktunya,” ujar Nurjani (63) warga Kelurahan Kota Baru Lahat.
Lanjut dia biasanya dalam 1 hari itu berhasil memanen 1.2 ton beras dalam 4 bulan sekalim Namun akibat kemarau ini hanya mampu panen setengahnya.
“Modal saja mencapai Rp 3,6 juta dan hasilnya bagi dua dengan pemilik lahan. Jadi keuntungan tidak begitu banyak,” ungkapnya.
Kepala Dinas Pertanian Lahat Agustia Budiman melalui Kabid Tanaman Pangan A Firdaus Sp mengatakan bahwa untuk lahan tadah hujan rentan terhadap kemarau. Pihaknya telah memberikan beberapa solusi, diantaranga bantuan pipa, mengganti tanaman seperti jagung, kedele, sayuran atau tanaman bermuru pendek dan tahan akan kekeringan.
“Serta mengajak petani untuk ikut asuransi pertanian. Karena kalau gagal panen bisa diklaim,” ucap Firdaus.
Sambubgnya lahan di tadah hujan di Lahat hanya sekitar 8,9 persen atau sekitar 1570 ha dari 17 ribu ha Lahan pertanian di Lahat. Lahan tadah hujan tersebar di beberapa daerah seperti sebagai di kecamatan Lahat dan Merapi Area.
Sambungnya periode tanam April – September saat ini telah dipanen. Bulan juni lalu ada 3814 ha yang panen, sementara bulan ini hingga tanggal 25 juli mencapai 2230 ha lahan yang panen.
“Kalau untuk lahan irigasi di Lahat saat ini masih aman karena mereka sudah mulai panen,” tukasnya.
Editor : Zadi
Lahat Hotline





