LAHAT, LhL – Bupati Lahat, H Saifudin Aswari Rivai SE melalui Kepala Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD), H Haryanto SE MM MBA didampingi Kepala Bidang (Kabid) Anggaran, Niel Adrin SE MAP menyebutkan, bahwasanya untuk Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (RAPBD) 2017 mengalami penurunan lebih kurang sebesar Rp 70 M atau setera Rp 1,77 T.
“Memang jika dibandingkan dengan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Induk 2016 mencapai Rp 1,8 T, pada RAPBD 2017 sedikit turun sebesar kurang lebih Rp 1,77 T atau Rp 70 M,” katanya, ditemui, di ruang kerjanya, Jum’at (11/11).
Ia menjelaskan, penyebab menurunnya RAPBD 2017 ini tidak lain dikarenakan dana transfer dari pusat tidak signifikan, khususnya dari dana bagi hasil sektor minyak dan gas bumi (migas).
“Penyebabnya, menurunnya dana transfer pusat, khususnya dana bagi hasil sektor migas, sehingga mempengaruhi jumlah anggaran di daerah,” urai H Haryanto.
Niel menambahkan, dengan menurunkan dana RAPBD 2017 tersebut, sudah barang tentu kepada masing-masing satuan kerja perangkat daerah (SKPD) harus melakukan penghematan terutama sektor belanja langsung.
“Paling penghematan dimana, belanja langsung yang diberikan setiap SKPD banyak kecil anggarannya, kecuali program kerja memang masuk dalam skala prioritas wajib didahulukan agar pembangunan segala aspek terjadi pemerataan,” tambahnya.
H Haryanto mengharapkan, kepada SKPD baik teknis dan non teknis agar dapat memaklumi kondisi sekarang ini, mengingat bukan cuma di Kabupaten Lahat saja, melainkan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) bahkan kabupaten/kota di seluruh Indonesia diberlakukan hal serupa.
“Oleh sebab itu, bukannya dipangkas tapi penghematan, lain halnya program kerja skala prioritas akan diutamakan. Mengingat dana dari pusat tidak begitu besar ditransfer,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Lahat, Herliansyah SH MH didampingi Wakil Ketua I, Drs Farhan Berza MM MBA mengungkapkan, dengan keadaan seperti ini tentunya harus bekerja keras dalam memaksimalkan anggaran yang ada, selain mencari potensi-potensi untuk mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD). Dimana, tidak akan menyalahkan siapa-siapa terpenting penghematan lebih diperhatikan serius.
“Tentunya kita dapat memaklumi situasi sekarang ini, tidak hanya terjadi di Lahat, akan tetapi seluruh Indonesia harus memutar otak, supaya tidak terjadi stagnan dikemudian hari termasuk juga pembangunan disegala sektor,” tandasnya.
Photo/Naskah : (BENS)
Editor : (UJANG, SP)
Lahat Hotline





