Author : Karel
MUARA ENIM, LhL – Puluhan mobil angkutan batubara dari arah Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim, tampak sudah keluar dan melintas di jalan umum. Padahal belum waktunya diperbolehkan untuk berangkat dan melintas di jalan raya.
Padahal di Peraturan Gubernur Nomor 23 tahun 2012 dalam pasal 5 ayat 2, tertulis jelas bahwa angkutan batubara boleh melintas pukul 06.00 WIB. Namun karena kebijakan untuk mengurai kemacetan di Kecamatan Ujanmas, kemudian dilakukan rapat oleh Polres Muara Enim, Dishub Muara Enim, dan Pemerintah Kabupaten Muara Enim yang hasilnya membolehkan truck angkutan batubara melintas pada jam 16.00 wib, namun perlahan tidak sepenuhnya diperbolehkan lewat.
Pada kenyataan di lapangan sangat berbeda jauh, seperti yang terpantau oleh Lahathotline, Kamis (04/10/2018), di sekitar Simpang Tiga Jembatan terlihat angkutan batubara sudah mulai melintas pada pukul 15.00 WIB, sehingga menyebabkan kemacetan parah di beberapa titik.
Salah seorang anggota Satlantas yang mengatur lajur angkutan batubara, Brigadir Diaz mengatakan, kebiasaan itu memang sengaja dilakukan oleh para sopir. Mereka membuat macet jalanan dengan cara memarkirkan kendaraan di sepanjang jalan lintas.
“Memang disengajonyo, dibuat macet dulu jalan sehingga merugikan pengguna jalan lain. Jadi, kan yang dari arah Tanjung Enim tidak bisa lewat akibat ulah sopir batubara yang seenaknya saja ini,” ujar Diaz kepada wartawan.
Masih kata Diaz, kalau sudah macet dirinya dan rekan-rekannya yang menjadi sasaran warga. Sedangkan untuk mengatasi masalah tersebut, dirinya memberikan izin untuk lewat.
“Mau tak mau harus kita izinkan untuk lewat, karena dari arah Tanjung Enim sudah macet total dan masyarakat sudah mulai marah-marah,” tambahnya.
Sementara Rizal salah satu supir angkutan Batubara dari PT. Manambang Muara Enim (MME), mengaku nekat keluar karena ingin cepat sampai dan karena ikut-ikutan teman sopir yang lain.
“Ya karena ikut teman yang lain, kadang juga kami kejar setoran,” akunya.
Saat ditanya soal kebiasaan angkutan yang hobi parkir di pinggir jalan, namun tidak sampai keluar jalan, Rizal mengaku karena takut kendaraannya tidak bisa jalan, karena satu truck itu muatannya sampai Sembilan sampai Dua Belas Ton.
“Takut tidak kuat, jadi terpaksa parkir di pinggir jalan,” terangnya.
Hingga sekarang, warga sangat mengeluhkan atas ketidak-tertiban transportasi angkutan batubara yang berakibat pengguna jalan menjadi terganggu, khususnya warga muara enim yang rumahnya tidak jauh dari jalan raya.
Amin, warga yang rumahnya di sekitar lokasi juga mengatakan, Setiap hari dirinya pusing karna selalu membersihkan debu yang berserak di lantai rumah.
“Pusing nian aku. Tiap hari nyapui debu ni,” keluh Amin.
Editor : Zadi
Lahat Hotline





