PALEMBANG, LhL-Pemerintah Kota Palembang kian serius menuntaskan persoalan sampah melalui proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Lewat proyek strategis ini, timbunan sampah ditargetkan berkurang hingga 30 persen, sekaligus diubah menjadi energi listrik ramah lingkungan.
Komitmen tersebut ditegaskan Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, saat menjadi narasumber di salah satu televisi nasional, Minggu (22/2/2026).
Menurut Ratu Dewa, PLTSa Palembang dirancang bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan menjadi tulang punggung sistem pengelolaan sampah kota. Fasilitas ini mampu mengolah hingga 1.000 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik hingga 20 megawatt (MW).
“Produksi sampah kita saat ini berkisar 1.200 ton per hari. Artinya, PLTSa ini akan berperan besar dalam menekan volume sampah secara signifikan, bahkan hingga 80 persen dari volume yang masuk ke fasilitas,” ujarnya.
Selain mengurangi timbunan sampah, proyek ini juga ditargetkan menekan emisi gas metana yang selama ini menjadi salah satu penyumbang emisi berbahaya dari tempat pembuangan akhir. Sistem pengolahan akan dilengkapi teknologi filtrasi berlapis serta pemantauan emisi secara kontinu guna memastikan seluruh parameter, termasuk dioksin, memenuhi baku mutu lingkungan.
Dalam operasionalnya, PLTSa akan beroperasi selama 20–24 jam per hari dengan distribusi sampah mencapai 40–50 ton per jam. Tantangan terbesar, kata Dewa, adalah menjaga konsistensi pasokan sampah dari seluruh Tempat Penampungan Sementara (TPS) agar tepat waktu dan sesuai spesifikasi teknis.
Saat ini, Palembang memiliki sekitar 160 armada pengangkut sampah yang melayani 18 kecamatan. Untuk mendukung operasional optimal PLTSa, dibutuhkan sedikitnya 220 armada. Artinya, terdapat kekurangan sekitar 60 unit.
“Kita perlu peremajaan kendaraan tua dan pengadaan armada baru agar sistem distribusi sampah benar-benar efektif dan efisien. Ke depan, manajemen pengelolaan sampah harus berbasis data yang akurat,” tegasnya.
Di sisi lain, Pemkot Palembang juga menekankan pentingnya partisipasi masyarakat. Tanpa keterlibatan warga, proyek sebesar apa pun tidak akan berjalan maksimal. Ratu Dewa mendorong penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) serta pemilahan sampah sejak dari rumah tangga.
Program “Satu Kelurahan Satu Bank Sampah” menjadi salah satu strategi utama. Saat ini telah terbentuk 96 bank sampah dari total 107 kelurahan. Setiap bank sampah rata-rata mampu mengurangi 0,5 hingga 1 ton sampah per hari, atau secara keseluruhan sekitar 50–100 ton per hari.
“Ini setara 4–8 persen dari total produksi sampah harian. Angka ini cukup signifikan sekaligus menjadi penggerak ekonomi kerakyatan,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Palembang, Dr Akhmad Mustain, S.STP, M.Si, menerangkan bahwa sampah yang masuk ke fasilitas akan ditampung di bunker selama tujuh hari sebelum diproses melalui sistem pembakaran (combustion).
Menurutnya, insinerator menjadi bagian kunci dalam proses pengolahan. Sampah akan dibakar pada suhu tinggi untuk menghasilkan uap, yang kemudian digunakan memutar turbin dan menghasilkan listrik.
Secara keseluruhan, PLTSa Keramasan diproyeksikan menghasilkan daya hingga 20 MW, dengan sekitar 17,7 MW akan disalurkan ke jaringan listrik PLN.
“Kami berharap ini dapat memperkuat backbone kelistrikan Palembang, yang seiring pertumbuhan kota membutuhkan tambahan pasokan energi,” ujarnya.(*)
editor_ron
Lahat Hotline



