Author : Repi Black
PAGARALAM, LhL – Dalam menggapai hasrat dan keinginan, tidak jarang segala cara digunakan. Bahkan yang tak lazim dan mestinya tidak diperbolehkan, justru dilakukan.
Fenomena ini mulai nampak dan menggejala di Kota Pagaralam. sejalan dengan akan digelarnya pesta demokrasi mencari pemimpin, atau Walikota untuk lima tahun ke depan.
Tidak bisa dipungkiri. Tentu bagi para calon harus mempunyai strategi yang matang, plus amunisi (modal) yang tidak sedikit. Terlepas calon itu melaju lewat jalur independent, maupun Partai Politik (Parpol).
Berdasarkan hasil survey Voxpol, kisaran 27 persen belum menentukan pilihan dan 60 persen masyarakat di Pagaralam memaklumi adanya poltik uang (money politics).
Pangi Syarwi Chaniago dari Voxpol mengatakan, dari lingkaran survey 60 persen masyarakat Pagaralam memaklumi politik uang.
“Kan belum ada larangan menerima pemberian dari sang calon, apalagi mendekati gelaran pilkada”, sebutnya.
Konektifitasnya, imbuh dia, jangan sampai uang habis tetapi tidak dapat suara. Ini sudah banyak terjadi di Indonesia.
“Uangnya habis, malah ngak jadi. Ujung ujungnya stress lalu stroke”, urainya.
Terjadinya hal ini, lanjut lelaki yang akrab disapa Ipang ini, karena penempatan yang salah. Hal ini terjadi, mengingat masyarakat pemilih sudah semakin pintar. Mereka (pemilih) juga melihat figur sang pemimpin, emosional kemasyarakatan dan sebagainya.
“Masih enak sudah dikasih, tetapi memilih yang memberi. Kadangkala, sudah diberi malah pilihannya lain. Untuk itu para calon harus hati hati dalam bermain, jangan sampai uang habis tak dapat suara”, ujarnya sambil bercanda, saat dikonfirmasi wartawan, Senin (4/12/17) di Villa Gunung Gare.
Berkaitan dengan 27 persen yang belum punya pilihan, tentu diserahkan kepada tim methode yang digunakan masing masing calon untuk mendapatkannya.
“Jika methodenya bagus, ya.. tentu hasilnya akan bagus juga”, tutup Ipang.
Editor : Zadi
Lahat Hotline





