Author : RIADI
LAHAT, LhL – Ada banyak cara bagi semua orang untuk menghasilkan rupiah yang halal, bertani, berdagang dan lainnya. Bahkan membuat sebuah kerajinan, pun bisa mendatangkan rupiah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Seperti yang dilakukan Aswani (53) salah seorang warga Kelurahan RD PJKA Bandar Agung, Kecamatan Lahat. Laki-laki paruh baya ini terlihat cukup tekun mendalami dunia kerajinan tangan, dengan membuat Jala (red, alat penangkap ikan tradisional).
Diceritakan Aswani, bahwa dia sudah cukup lama menggeluti kerajinan tangan membuat jala ini. Kendati membuat jala bukanlah pekerjaan utama baginya, namum perkerjaan aslinya sebagai buruh serabutan tidak mencukupi kebutuhannya. Sehingga ia pun memanfaatkan waktu santaimya saja, dan tidak memiliki banyak waktu untuk terlalu fokus untuk membuat alat penangkap ikan tradisional tersebut.
“Kalau ada waktu luang saya teruskan membuat jala ini, ini saja sudah setengah bulan lebih saya buat secara bertahap,” ungkapnya seraya menunjukan jala yang masih belum selesai dibuatnya tersebut, Sabtu (23/09/2017).
Ketika ditanya masalah penghasilan dari membuat jala, Aswani mengatakan jika hanya mengandalkan hasil dari membuat jala untuk memenuhi kebutuhan hidup, jelas tidak akan mencukupi.
“Saya inikan cuma sambil ngopi memgisi waktu luang saja, disamping itu membuat jala adalah hobi saya sejak lama. Jadi hasilnya juga tidak seberapa, tapi daripada nganggur nggak ada kerjaan, mending mengisi waktu membuat sesuatu yang positif. Iseng iseng berhadiah lah,” cetusnya.
Dulu, sambungnya, waktu ia masih di lembaga pemasyarakatan ia mendapatkan ilmu membuat jala yang diajarkan oleh nara pidana lain.
“Harapannya, begitu keluar dari LP kita bisa mandiri dalam mencari nafkah. Sayangnya waktu itu saya tidak belajar sampai tuntas. Sehingga saya belum bisa cara menyulam timah ke Jala, makanya saya masih harus keluar dana lagi untuk menempatkan pemasangan timah pada jala, karena saya tidak sempat belajar waktu itu,” imbuhnya.
Padahal, masih kata Aswani, seharusnya ia bisa mendapatkan keuntungan yang lumayan andai saja dirinya bisa melekatkan timah ke jala buatannya tersebut.
“Begitu selesai, saya jual dengan harga Tujuh Ratus Ribu Rupiah, karena saya membuatnya juga dengan modal yang lebih, untuk biaya pemasangan timah pemberat jala. Kalau bukan karena itu, mungkin saya bisa dapat untung yang lebih lumayan. Tapi walaupun agak mahal dibandingkan dengan di pasar, saya yakin pembeli tidak akan kecewa, lantaran teknik penyelaman saya agak beda dengan yang lain,” ungkapnya.
Sementara itu tetangganya, Junaidi, mengaku bahwa adiknya pernah membeli jala buatan Aswani ini.
“Adik saya pernah beli jala karya Aswani tempo hari, sampai sekarang jalanya masih bagus dan tahan lama,” terang Junaidi.
Editor : ZADI
Lahat Hotline





