LAHAT, LhL – Pukul 02.00 dini hari, jalan Jenderal Sudirman beranjak tidur. Sepi, hanya satu dua kendaraan saja yang melintas. Di pinggir jalan, di depan rumah makan Padang Mahmud duduk di trotoar. Dingin tak mampu memasung tubuh yang sudah lama bercerai dengan baju itu. Dia tersenyum memperhatikan beberapa ekor kucing yang sibuk membolak-balik sampah di depannya. Sesekali tangannya mengucek mata yang digantungi kantuk lalu kembali pandangan matanya seperti ingin merobohkan gedung dan ruku-ruko yang berjejer di sepanjang jalan. Mahmud merebahkan tubuhnya yang diselimuti debu, Sementara nyamuk-nyamuk memeluk perut buncitnya tapi dia tak pernah membunuh nyamuk itu. Dia senang darahnya bisa menjadi minuman hangat.
Sudah satu tahun lebih Mahmud bersahabat dengan jalanan, kucing dan nyamuk. Dia sangat mencintai hidupnya. Sesekali dia mendongeng, kucing dan nyamuk-nyamuk itu tak pernah bosan mendengar cerita Mahmud tentang hidup di matanya, tentang hidup di kepalanya.
Langit menyala, seperti kembang api di malam tahun baru.
Langit akan menangis, kata Mahmud sambil mendongakkan kepalanya. Dia beranjak dari duduknya lalu menggeleng-gelengkan kepala seperti melihat bidadari yang menari di bianglala. Mahmud hapal betul, biasanya akan ada sungai dadakan di tengah jalan selepas hujan turun. Sudah lama Dia tak mandi di sungai.
Hujan tidak pernah ragu menentukan ke mana harus jatuh. Walau hujan sempat bingung mencari rawa-rawa, mencari kolam retensi dan mencari selokan yang tak ada sampahnya dan akhirnya hujan itu membuat sungai di tengah jalan. Tapi Mahmud senang, dia bisa berenang di tengah jalan raya. Bahkan dia beharap hujan tidak berhenti turun agar sungainya melebar dan dia bisa menjadi ikannya dan dapat mendengar suara kodok-kodok tertawa. Bukankah kodok-kodok suka tempat yang lembab dan basah apalagi banjir.
***
Matahari dan kendaraan bermotor berseliweran. Mahmud masih berenang di sungai. Beberapa anak dengan seragam sekolahnya melangkah terburu-buru. Mahmud tersenyum menyapa seorang laki-laki yang lewat sambil memperhatikan ulahnya. Laki-laki itu mempercepat langkahnya.
Mahmud mengibas-ngibaskan kepala lalu menyisir rambut gondrongnya dengan jari. Rambut yang tak pernah kena sampo, rambut yang seperti kawat jemuran berkarat. Kembali dia duduk di trotoar, menghisap puntung rokok yang temukannya tergeletak di pinggir jalan, membaca koran bekas dan sesekali merapikan tali rapia yang melingkar di lehernya.
“Ini kalung emas, kata Mahmud tersenyum sambil menunjukkan kalungnya kepada seorang wanita yang lewat sambil memperhatikan ulahnya. wanita itu mempercepat langkahnya.
Mahmud bingung, tidak ada orang yang tersenyum padanya.
“Apakah orang-orang ini sudah kehilangan senyumnya? kata Mahmud sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kendaraan tumpah di aspal bahkan meluber sampai ke trotoar, sesekali Mahmud membuang air ludah.
Cuih. Lalu menyusul dahak menyembur.
Tiba-tiba mata Mahmud melotot, dia berteriak menyuruh orang minggir dan menghentikan kendaraannya. Dia berlari menengah jalan lalu duduk bersimpuh menggeleng-gelengkan telunjuk.
Jangan mondar-mandir di jalan nanti tertabrak mobil seperti bapakmu, nasihat Mahmud lalu mengelus kepala kucing yang sudah berada di pelukannya. Kemarin pagi satu kucing penyet terlindas roda bis kota, Mahmud menangis meraung-raung.
“Kalian roda-roda jahat melindas temanku yang kecil, pekik Mahmud di sela tangisnya. Klakson mobil dan sepeda motor mengeluarkan sumpah serapahnya.
***
Mahmud tersenyum, menyandarkan tubuhnya di samping wc umum. Di sebuah pasar dia mengamati lalu-lalang orang sambil mengusap jenggot yang lebat. Dia tertawa sambil menunjuk seorang ibu yang menenteng kantong yang berisi sayuran.
“Hei, berhenti! apa kamu sudah gila? teriak Mahmud lalu tersenyum, kali ini senyumnya menggusarkan hati wanita itu dan orang disekelilingnya. Wanita itu mempercepat langkahnya, Mahmud menunjuk seorang anak kecil yang tertinggal jauh.
“Anakku! jerit wanita itu menoleh ke kanan dan ke kiri. Mahmud kembali mengacungkan telunjuknya. wanita itu berlari mendekati anaknya setelah melihat arah yang ditunjuk Mahmud.
Selembar uang lima ribuan terjulur dari tangan ibu itu. Anaknya memperhatikan Mahmud yang juga menatapnya.
Trimakasih kata Mahmud sambil menggelengkan kepala.
Mahmud tidak butuh uang. Mahmud hanya butuh tulang ikan, nasi basi, sayur basi dan semua makanan sisa yang sudah dibuang ke bak sampah atau makanan yang tercecer di jalanan. Karena Mahmud-lah yang paling tahu bagai mana bau dan rasa makanan itu. Nikmat dan sedap seperti sepotong roti mentega dan secangkir kopi di pagi hari.
***
Malam kembali, seperti malam-malam yang telah Mahmud lingkari di tanggalannya. Malam-malam yang tak pernah terang walau ribuan mega watt lampu menyeruak angkasa, kecuali jika bintang melahirkan rembulannya. Di sebuah perkampungan di mana rumah-rumah hanya merupakan potongan kayu dan tiplek yang menempel seadanya, rapat dan berdesak-desakan. Mahmud membakar kertas koran bukan untuk menghalau dingin atau mengusir nyamuk.
Ini hari ulang tahunku kata Mahmud sambil bertepuk tangan, menari dan menyanyi. Dia membagi-bagikan tulang ikan kepada kucing-kucing, Mahmud tersenyum, ulang tahunnya di hadiri kucing-kucing.
Entah dari mana datangnya, angin bertiup kencang membuat Mahmud mengejar api ulang tahunya yang menggelinding menuju sebuah rumah. Kini, api ulang tahun membesar. Mahmud semakin keras bertepuk tangan, menari dan menyanyi. Ramai, gaduh. Jeritan berdatangan, jeritan keluar rumah. Mahmud tertegun, haru seperti mendengar ucapan selamat ulang tahun untuknya. Dia lalu menyalami satu-persatu orang tersebut. Dia tak menyangka ulang tahunnya dihadiri banyak orang.
Tiga jam dan waktu terus berjalan setelah ulang tahunnya, setelah dinikmatinya sebungkus nasi basi, Mahmud tergeletak tak bernafas lagi. Tak ada karangan bunga, tak ada ucapan bela sungkawa.
Mahmud tidak pernah membenci, bibirnya selalu tersenyum dan dari mulutnya selalu keluar ucapan terima kasih. Tapi orang-orang itu memukulinya. Sampai tulangnya patah, sampai kulitnya berdarah, sampai jeritnya tak terdengar lagi karena kalah dengan kerasnya suara kayu yang beradu dengan kepalanya. Di kejauhan kucingnya mengeong, hanya kucingnya yang berduka. Hanya nyamuknya yang berkabung. Hanya hadiah kecil di hari ulang tahun Mahmud.
Palembang, 4 Juni 2005.
Editor : Ron
Lahat Hotline





