Author : Repi Black
PAGARALAM, LhL – Berubahnya harga sayuran di pasaran, membuat petani menjerit dan meradang. Pasalnya, biaya operasional dari mulai tanam hingga panen tidak sesuai dengan hasil yang didapat, karena murahnya harga jual di pasaran.
Pantas saja bila diibaratkan makan buah simalakama, dimakan mati bapak, tidak dimakan mati emak.
Keluh kesah anjloknya harga sayur ini, diterangkan oleh Herri salah seorang petani sawi kepada wartawan di areal persawahan Tebat Jawi Dusun Pagardin, Kecamatan Dempo Utara Pagaralam.
Menurut pria satu anak ini, harga sawi biasanya Rp.1.500 per ikat, tapi sekarang hanya Rp 500,-
“Harganya bukan turun, tetapi berubah. Kondisi ini, membuat kami petani merugi. Dipanen harganya murah, tidak dipanen, ya tambah parah”, keluh dia.
Basanya, sambung Herri, kalau harganya normal bisa tambah tenaga kerja alias ngupah untuk mempercepat kerjaan. Namun ketika harga cuman Rp.500 seperti saat ini, untuk upahnya saja tidak cukup.
“Sehingga terpaksa panen kerja sendiri”, imbuhnya.
Masih kata Herri, anjloknya harga sawi ini dimungkinkan karena sedang banjir alias panen bersamaan.
“Kalau barang banyak atau banjir, harga pasti turun”, sebutnya.
Pantauan di Lokasi, sayur yang sudah dipanen dan diikat, lalu dijemur beberapa saat sebelum dimasukan ke dalam karung.
Editor : Ahmad
Lahat Hotline








