Author : Toni Ramadhani
LAHAT, LhL – Antrean panjang kendaraan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Muara Siban kian mengkhawatirkan dan mengganggu kenyamanan pengguna jalan umum. Penumpukan kendaraan ini diduga kuat dipicu oleh maraknya aksi pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, khususnya Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) Pertalite, yang dilakukan berulang kali untuk dijual kembali.
Berdasarkan pantauan di lapangan, Senin (7/9/26) antrean didominasi oleh kendaraan-kendaraan yang diduga kuat telah memodifikasi tangki BBM dalam kapasitas tak wajar. Lemahnya pengawasan dari pihak pengelola SPBU disinyalir menjadi celah bebasnya praktik penyalahgunaan BBM bersubsidi ini.
Keluhan keras disampaikan oleh Gambiro salah satu warga dan pengendara yang melintas. Ia meluapkan kekecewaannya atas pembiaran yang terjadi di lokasi.
“Pertalite di sini banyak digunakan oleh orang-orang yang nimbun minyak seperti Mobil Kijang yang tangkinya sudah dimodifikasi. Dan kesalnya lagi gak dilarang, gak ada juga satpamnya, SPBU apaan ini,” ujar Gambiro saat ditemui di tengah antrean kendaraan.
Kondisi tersebut membuat masyarakat umum yang benar-benar membutuhkan BBM untuk kebutuhan sehari-hari harus mengantre hingga berjam-jam, bahkan seringkali kehabisan stok Pertalite.
Masyarakat mendesak pihak Pertamina dan aparat kepolisian setempat untuk segera turun tangan melakukan inspeksi mendadak (sidik) serta pengawasan ketat di SPBU Muara Siban. Aparat diminta menindak tegas kendaraan ber-tangki modifikasi, pembeli yang membawa jerigen tanpa izin resmi, serta oknum SPBU yang terbukti bekerja sama dalam praktik penimbunan BBM bersubsidi tersebut demi mengembalikan hak masyarakat luas.
Lahat Hotline








