Home / LAHAT FOKUS / POLISI TIDUR, PITA PENGGADUH, DAN GARIS KEJUT
PhotoGrid_1591332725323

POLISI TIDUR, PITA PENGGADUH, DAN GARIS KEJUT

(Di Tengah Dilema Dukungan dan Juga Makian)

IMG-20200605-WA0004

Oleh : Imam Rustandi, SH

(Advokat & Jurnalis PWI Lahat)

Satu persatu kebijakan mulai bermunculan, terutama di zaman kepemerintahan Kabupaten Lahat, dibawah kepemimpinan Bupati H Cik Ujang SH dan Wabup, H Haryanto SE berikut segenap ‘Kabinet’ bawahannya ataupun ‘mitra’ kerjanya yang ada. Satu ‘produk’ yang sampai saat ini keberadaannya menuai Pro dan Kontra di lapangan, adalah mengenai kebijakan dibuatnya sebuah benda berbentuk ‘GUNDUKAN’ melintang ditengan jalan umum, jalan kota dan atau bahkan Jalanan Lintas Nasional yang membelah kawasan Kabupaten berjuluk ‘Seganti Setungguan’ dan saat ini mulai berganti dengan ‘CAHAYA’ yang bagi penulispun arti, makna dan harfiah julukan baru ini masih terasa sangat asing ditelinga dan di benak, sebagai seorang orang asli yang bertumbuh kembang di Lahat selama ini. POLITIS memang …

Adapun ‘GUNDUKAN’ yang dibuat dari cetakan aspal ini sendiri terkesan dibuat dengan ‘ABSTRAK’, tak sama bentuk, ukuran, jarak bahkan jika berbicara tentang tata letaknya dilapangan, seolah semakin ‘mengaburkan’ dan membuat khalayak ramai bingung, apakah itu yang dinamakan ‘Polisi Tidur’, ‘Pita Penggaduh’, ataukah ‘Garis Kejut’ seperti nama nama yang sebelumnya sempat dicarikan arti sesungguhnya melalui bantuan ‘jejaring sosial’ (Mbah Google), sehingga wajar kemudian menjadikan hal tersebut Pro dan Kontra dilapangannya.

“Ini bukan lagi polisi tiduk, tapi polisi duduk. Sudah bentuknyo tinggi, jaraknya rapat nian, terus sekali dipasang, dak tanggung tanggung, banyak berjejer di hampir salah satu lokasi,” ujar Bobi (50), salah satu warga Lahat, yang sempat dibincangi sesaat setelah melintasi kawasan Lembayung, atau tepatnya di sekitar kawasan depan Citimall beberapa waktu lalu. Bahkan ironisnya lagi, masih berdasarkan cerita dari warga sekitar lokasi yang dijumpai juga mengatakan, sebelumnya bahkan pernah ada satu kendaraan yang mesti mengalami kerusakan, setelah melintasi kawasan yang katanya berpolisi tidur tersebut.

Aneh memang, jika menilik fakta di lapangan, dari sekitar kawasan depan area Citimall, hingga di kawasan depan kantor PT PLN WS2JB Cabang Lahat, yang berjarak tak kurang dari 300 meteran tersebut, berjejer gundukan melintang ditengah jalan, dengan tinggi yang lumayan jika dilewati kendaraan, baik cepat atau dalam kondisi lambat sekalipun, roda 2 atau roda 4 sekalipun. Begitu pula saat penulis mencoba mengutip satu pendapat ataupun komentar dari tokoh pemuda, kritikus pembangunan dan program Pemkab Lahat, Bung Sanderson Syafe’i, yang juga merupakan Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Lahat sebelumnya. Dimana dirinya berpendapat, Polisi Tidur atau apapun namanya itu sejatinya dibuat agar pengendara mengurangi kecepatan kendaraan mereka, dengan pertimbangan keselamatan atau juga kepentingan orang banyak. Namun karena dibuat secara sembarangan, tak jarang polisi tidur justru meminta korban, dan menurutnya lagi, banyak bentuk polisi tidur yang selama ini memiliki ukuran berbeda-beda yang akhirnya malah membahayakan pengguna jalan.

“Aturannya sudah jelas kok, jadi semestinya kepada pihak terkait kiranya bisa lebih dulu menyimak, membaca dan mempelajari aturannya dulu,” tukasnya. Dilain sisi, jika merunut akan arti pada situs Wikipedia/Ensiklopdia Bebas, adapun arti atau pengertian dari Pita Penggaduh adalah kelengkapan tambahan pada jalan yang berfungsi untuk membuat pengemudi lebih meningkatkan kewaspadaan menjelang suatu bahaya.

Pita penggaduh berupa bagian jalan yang sengaja dibuat tidak rata dengan menempatkan pita-pita setebal 10 sampai 40 mm melintang jalan pada jarak yang berdekatan, sehingga bila mobil yang melaluinya akan diingatkan oleh getaran dan suara yang ditimbulkan bila dilalui oleh ban kendaraan, sehingga faktor keselamatan yang di tuju bisa tercapai. Bahkan, Pita penggaduh ini sendiri biasanya ditempatkan menjelang perlintasan, menjelang sekolah, menjelang pintu tol atau tempat-tempat yang berbahaya bila berjalan terlalu cepat. Pita Penggaduh sendiri juga bisa dikatakan adalah berupa suatu marka jalan atau bahan lain, yang kemudian dipasang melintang jalur lalu lintas dengan ketebalan maksimum 4 cm, serta lebar pita penggaduh minimal 25 cm, berjarak masing masing antara pita penggaduh minimal 50 cm. Kemudian, pita penggaduh yang dipasang sebelum perlintasan sebidang minimal 3 pita penggadu, dengan dibuat dari bahan thermoplastik atau bahan yang mempunyai pengaruh yang setara yang dapat memengaruhi pengemudi.

Masih menurut Wikipedia, Polisi tidur, alat pembatas kecepatan atau markah kejut adalah bagian jalan yang ditinggikan berupa tambahan aspal atau semen yang dipasang melintang di jalan, untuk pertanda memperlambat laju/kecepatan kendaraan. Untuk meningkatkan keselamatan dan kesehatan bagi pengguna jalan, dengan ketingginya diatur dan apabila melalui jalan yang akan dilengkapi dengan rambu-rambu pemberitahuan terlebih dahulu mengenai adanya polisi tidur, khususnya pada malam hari, maka polisi tidur dilengkapi dengan marka jalan dengan garis serong berwarna putih atau kuning yang kontras sebagai pertanda. Akan tetapi faktanya, seringkali pembuatan polisi tidur yang umumnya ada di Indonesia lebih banyak yang bertentangan dengan desain polisi tidur yang diatur berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan No 3 Tahun 1994, dan hal yang demikian ini bahkan dapat membahayakan keamanan dan kesehatan para pemakai jalan tersebut.

Di Indonesia, ketentuan yang mengatur tentang desain polisi tidur diatur oleh Keputusan Menteri Perhubungan No 3 Tahun 1994 tentang Alat Pengendali dan Pengaman Pemakai Jalan, dimana sudut kemiringan adalah 15% dan tinggi maksimum tidak lebih dari 120 mm. Sementara Penempatan polisi tidur, Alat pembatas kecepatan semestinya ditempatkan pada jalan di lingkungan pemukiman, jalan lokal yang mempunyai kelas jalan IIIC, pada jalan-jalan yang sedang dilakukan pekerjaan konstruksi, penempatan dilakukan pada posisi melintang tegak lurus dengan jalur lalu lintas.

Bila dilakukan pengulangan penempatan alat pembatas kecepatan ini harus disesuaikan dengan kajian manajemen dan rekayasa lalu lintas. Lebih lagi, semestinya sebelum dipasangnya sebuah Polisi Tidur, juga haruslah dilengkapi pula dengan beberapa perlengkapan yang ada, baik berupa tanda ataupun rambu peringatan tentang jalan tidak datar, atau berupa marka berupa garis serong dengan cat berwarna putih atau kuning. Namun faktanya, Polisi Tidur atau apapun itu namanya, yang dijumpai di jalanan Kota Lahat tidak sesuai aturan, baik dari status jalan, tinggi polisi tidur sampai penanda polisi tidur. Akibatnya, memang secara kasus kecelakaan menonjol belumlah terjadi, akan tetapi kecelakaan ringan sudah seringkali terjadi, kerusakan terhadap kendaraan bermotor, baik itu roda dua (2) ataupun roda empat (4) kerap terjadi, terlebih pada saat malam hari. Belum lagi, berbicara mengenai wewenang pemasangan ataupun penyelenggaraan Polisi Tidur atau Garis Kejut, atau Pita Penggaduh hal ini jelas juga tidaklah sembarangan dan sudah diatur sedemikian rupa.

Lalu, pada Pasal 36 KM 3 Tahun 1994 sudah menyebutkan, dimana memang Pemkab Kabupaten Lahat memiliki kewenangan untuk membuat atau mengadakan apa yang dimaksud diatas (Polisi Tidur, Garis kejut ataupun Pita Penggaduh), terutama seperti contoh dilapangan, lokasi yang saat ini menuai polemik, yaitu titik lokasi Jalur Lintas Nasional alias merupakan aset Nasional. Dimana sebelum pemasangan hal hal diatas, sebelumnya pihak Pemkab Lahat, melalui pihak terkait tentunya, mesti disertai atau dibekali dengan berkas persetujuan Direktur Jendral Kementrian Perhubungan, dan lagi lagi hal ini menjadi satu PERTANYAAN besar dibenak penulis, serta mungkin juga didalam benak masyarakat awam, yang sebenarnya mau protes, namun apalah daya tiada kuasa dan keterbatasan kemampuan. Pita Penggaduh justru diletakkan pada jalan yang memiliki arus lalu lintas yang cukup ramai.

Biasanya Pita Penggaduh ini terletak sebelum tikungan tajam, pintu masuk jalan tol, dan menjelang jalan sekolah. Jika polisi tidur dibuat hanya satu gundukan, maka Pita Penggaduh ini dibuat beberapa gundukan kecil. Minimal 3 gundukan. Pita Penggaduh memiliki ketebalan 4 cm, lebar 25 cm, dan antar garis memiliki jarak 50 cm. Garis Kejut memiliki tinggi maksimal 12 cm dengan lebar permukaan 15 cm. Sisi miring dengan kelandaian 15% dari ketinggian (8,5 derajat). Kemudian wajib di cat hitam putih secara diagonal. Jarak Garis Kejut satu dengan lainnya minimal 100 meter. Berjarak minimal 25 meter dari persimpangan jalan. Sementara, untuk penempatannya, Garis Kejut dibuat pada jalan yang tidak memiliki arus lalu lintas padat. Sesuai peraturan Menteri Perhubungan nomor 3 tahun 1994. Pasal 4 menyebutkan bahwa Garis Kejut dibuat pada lingkungan pemukiman. Jadi, sekali lagi disini penulis berani membeberkan apa yang ada diatas, tanpa maksud apapun, seiring keterbatasan kemampuan dan keahlian yang ada.

Akan tetapi, semuanya justru dilakukan demi kepentingan masyarakat Lahat secara luas, khususnya bagi kami pengguna jalur lalulintas jalanan, sebagai pihak yang mesti menanggung resiko dari segelintir kesalahan kesalahan pihak yang tak bertanggung jawab, itukah yang disebut kebijakan, yang disebut keadilan, mari kita sama sama renungkan dan pertanyakan di dalam hati. Kepada pihak pihak pemangku kebijakan, pemilik kekuasaan di wilayah kabupaten tercinta ini, entah itu Bupati, Dinas terkait, Satlantas atau siapapun diatas sana, jangan jadikan hal ini berlarut, karena akan lebih banyak dan sampai kapan ‘korban korban’ mesti bertambah. Terkadang, koreksi, instrospeksi diri, dan berani menerima kritikan, kemudian berani berspekulasi serta bahkan merubah suatu kebijakan, meski hal itu terkadang berat, juga perlu dilakukan, demi pertimbangan kepentingan seluruh masyarakat, bukan hanya demi kepentingan individu bahkan kelompok kelompok tertentu.

Editor : Redaksi

 ———————- IIII —————————

Check Also

IMG-20200808-WA0032

CAMAT LAHAT SAKSIKAN LANGSUNG PEMBANGUNAN JALAN SETAPAK DI KELURAHAN PASAR BAWAH

Author : Romlah LAHAT, LhL –  Hari ini, Jumat (7/8/2020) sekitar pukul 10.00 Camat Lahat, …

error: Content is protected !!