Home / BERITA NASIONAL / DARI BAGHDAD, KAIRO KE ANDALUSIA : WAJAH INTELEKTUALITAS ISLAM YANG TOLERAN
PhotoGrid_1523690198221

DARI BAGHDAD, KAIRO KE ANDALUSIA : WAJAH INTELEKTUALITAS ISLAM YANG TOLERAN

Oleh :
Arafah Pramasto,S.Pd.
(Penulis Buku Kesejarahan dan History Blogger asal Palembang)
Al-Quran dalam QS. Al-A’raf : 189 telah mengungkapkan keberadaan atom 1400 tahun yang lalu, korelasi antara pewahyuan dan kesadaran membangun peradaban telah ada dalam agama ini dan terbukti dalam sejarah.
 
[1]. Kekhalifahan dinasti Abbasiyah yang didirikan pada tahun 750 M, setelah menumbangkan dinasti Umayyah yang berpusat di Damaskus, ialah contoh dari kemampuan Islam berkonsolidasi dengan elemen-elemen yang kompleks pada Revolusi Abbasiyah : didapatnya dukungan dari Muslim non-Arab (terutama etnis Persia) dan juga kaum non-Muslim. Dinasti Umayyah amat terkenal dengan corak Arab-Sentris, sedangkan kaum Muslimin non-Arab (disebut Mawali) mereka (pemerintah Umayyah) tempatkan sebagai warga kelas dua, keterlambatan respons Umayyah terhadap semakin bertambahnya kaum Mawali akhirnya mengantar keruntuhan dinasti monarkhi Islam Pertama itu.
 
[2]. Tidaklah heran setelah terjadi Revolusi Abbasiyah dibawah Khalifah Abu Abbas Al-Saffah, intensitas koneksi dunia Islam terhadap kelimuan pra-Islam, dalam kasus ini dominannya adalah Yunani disamping keilmuan Persia, Hebrew, dan Hindu, bisa terbina cukup baik melalui penerjemahan ke dalam bahasa Arab, yang diprogramkan oleh para Khalifah Abbasiyah. Islam dibawah kendali para Khalifah Abbasiyah telah membuktikan dirinya sebagai agama yang mampu mensistesiskan antara kebutuhan intelektual dan agama sekaligus. Sebelum kemunculan Islam, tulisan para ahli dari madzhab Alexandria (pra-Kristen), yang merupakan tempat bertemunya arus Helenik (Yunani-Pen), Yahudi, Babilonia, dan Mesir, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Suryani (Syriac) dan tradisi ini berpindah ke Antiokia. Dari sana, dibawa lebih jauh ke timur ke kota-kota seperti Nisibis dan Edessa. Situasi ini, yang membawa pengaruh besar jika melihat peradaban Islam (yang datang-Pen) berikutnya.
 
[3]. Dibandingkan dengan masa Umayyah, hanya didapati seorang figur langka seperti Khalid Ibnu Yazid yang mulai meneguhkan minatnya pada ilmu pra-Islam. Pada saat zaman Umayyah itu, masih jarang buku berbahasa Yunani dan Syriac yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.
 
[4]. Usaha penerjemahan di Baghdad di bawah kepemimpinan para Khalifah Abbasiyah kemudian secara mapan dilakukan di Bait Al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan-Pen), Baghdad. Manuskrip-manuskrip yang tersimpan berasal dari berbagai bahasa. Masa-masa awal penerjemahan sepertinya dititikberatkan kepada manuskrip berbahasa Pahlavi (Persia) ke bahasa Arab. Untuk buku buku Yunani, tercatat buku Aristoteles yang berjudul Physics adalah yang pertama diterjemahkan ke bahasa Arab selama masa kekuasaan Harun Al-Rasyid. Meskipun demikian, Sejarawan Al-Masudi mengatakan kalau buku Euclid diterjemahkan selama masa kekuasaan Al-Mansur (Khalifah ke-2), tampaknya adalah merupakan versi terjemahan sebelumnya dari Elements dilakukan selama masa berkuasanya Harun Al-Rasyid oleh ahli matematika bernama Al-Hajjaj Ibnu Matar, dibawah pengawasan Wazir (Perdana Menteri) bernama Khalid Ibnu Barmak.
 
[5]. Anak lelaki Harun Al-Rasyid yaitu Al-Makmun melanjutkan kampanye penerjemahan yang dirintis oleh ayahnya. Khalifah yang satu ini (Al-Makmun) amat dikenal karena keintelektualannya dan kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan serta jasa-jasanya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Nampaknya dengan kerja keras Al-Makmun pada masa pemerintahannya itu, Bait Al-Hikmah telah mapan dan menyimpan banyak terjemahan sehingga menjadi perpustakaan besar di masanya.
 
[6]. Suatu kisah yang amat terkenal ialah saat Al-Makmun bermimpi bertemu filsuf Aristoteles yang menjelaskan kepada sang Khalifah bahwa kebaikan adalah : “yang baik menurut pikiran kita”, “yang baik menurut aturan agama”, dan, “apapun yang baik menurut orang banyak”.
 
[7]. Totalitas Al-Makmun yang telah terkonsep secara jelas melalui kisah ini, bahwa tujuan pembangunan intelektualitas melalui penerjemahan adalah untuk kemaslahatan umum dan bukan terbatas pada kebutuhan kaum Muslimin saja. Pada masa awal pembangunan intelektual Abbasiyah itu, peran tokoh-tokoh Kristen Nestorian, salah satunya seperti Hunayn Ibnu Ishaq (808-873 M), seorang dokter dan anak apoteker dari Hira-Iraq, begitu penting dalam menerjemahkan banyak karya-karya Yunani terutama tulisan Galen. Hunayn juga berperan dalam menerjemahkan karya-karya medis dari Hippocrates, revisi terjemahan karya Euclid Elements, De Materia Medica tulisan Dioscorides yang menjadi dasar Farmakologi Islam nantinya. Bersama putranya, Ishaq Ibnu Hunayn, dan keponakannya yang bernama Hubaish, Hunayn berhasil menyelesaikan penerjemahan Almagest dan Tetrabiblos karya Ptolemeus. Ia juga sempat menulis bukunya sendiri dalam bidang kedokteran yaitu Question of Medicine yang ia selesaikan bersama Hubaish, sedangkan buku On The Properties of Nutrition ia buat berdasarkan karya-karya Galen. Meskipun Hunayn tidak membuat kontribusi otentik pada bidang kedokteran layaknya Ibnu Sina, tulisan-tulisannya yang bertopik medis serta terjemahan-terjemahannya dijadikan dasar bagi pendidikan dokter-dokter berbahasa Arab.
 
[8]. Sekalipun ia seorang Nestorian, ia ahli bahasa Yunani, ia juga pandai berbahasa Arab dan Syriac. Walaupun peran orang Kristen Nestorian sangat besar pada masa-masa itu, tetapi pada masa selanjutnya, dunia kelimuan dipegang oleh para ilmuwan Islam. Ulama-Intelektual seperti Murtadha Muthahari mengutipkan pendapat dari cendekiawan Kristen Ortodoks bernama Jurji Zaydan yang mengakui bahwa terlepas dari para tabib / dokter Kristiani yang melayani para Khalifah (Abbasiyah-Pen) dalam penerjemahan dan pengobatan, beberapa Ilmuwan Muslim juga beranjak ke Baghdad. Akan tetapi secara keseluruhan, ilmuwan besar yang bermukim di Baghdad mayoritas Krsitiani yang datang dari Irak dan seluruh penjuru negeri untuk diperbantukan di instansi para Khalifah. Ilmuwan Islam biasanya muncul di luar Baghdad, terutama ketika kerajaan-kerajaan kecil Islam bermunculan dan para rajanya, dengan mengikuti para khalifah, berusaha menyebarkan ilmu dan adab serta memanggil para ilmuwan ke pusat-pusat pemerintahan mereka seperti Kairo, Ghazni, Damaskus, Nishapur, Estakhr, dan lain-lain. Hasilnya muncullah Al-Razi dari Rey, Ibn Sina dari Bukhara, Biruni dari Birun (Sand), Ibn Jalil Ahli Botani, Ibn Bajah Sang Filsuf, Ibn Zuhreh seorang dokter dan keluarganya, Ibn Rusyd seorang Filsuf, serta Ibn Rumiah Ahli Botani dari Andalus.  Pada mulanya, ketika ilmu-ilmu luar diterjemah dan dinukil, mayoritas ilmuwan terdiri dari ilmuwan Kristen, terutama kaum Kristen Suryani (Syriac-Pen). Akan tetapi, kaum Muslimin mengambil alih secara perlaha.
 
[9]. Ibnu Sina adalah cendekiawan yang karyanya tetap menjadi pedoman utama bagi para Dokter muda di hampir seluruh universitas terkemukan Eropa, selama kurang lebih tujuh abad.
 
[10]. Dalam QS. Al-Ghasiyah : 17-26 adalah petunjuk bagi umat Islam untuk menganalisis proses kejadian di alam semesta, hal tersebut juga menerangkan bahwa pelaksanaan ajaran-ajaran Islam tidak hanya bersifat teoretis dan dogmatis, tapi betul-betul praktis, rasional, realistis, dan selalu mantap untuk segala ruang dan waktu.
 
[11]. Kemajuan intelektual ini memang sempat menghadapi berbagai tantangan, sempat sejenak tergusur akibat serbuan Hulagu Khan yang mengahncurkan Baghdad pada tahun 1258 M.
 
[12]. Tapi pewarisan kemajuan Islam sudah terlanjur tumbuh di belahan bumi lainnya. Di Eropa, peradaban Andalusia dan peradaban Islamnya yang unik direalisasikan dengan hubungan simbiotik dengan Eropa, mengakibatkan kemajuan keilmuan yang melahirkan Ibn Hazm dan Ibn Arabi, selain itu toleransi keagamaan adalah nilai lebih dari peradaban Islam Eropa tersebut, sampai-sampai seorang suster Saxon abad kesepuluh, Hroswitha dari Gandersheim, menyebut Andalusia sebagai “Hiasan Dunia”. Kekuasaan Islam membawa peningkatan bagi komunitas Yahudi, tidak seperti penguasa sebelumnya yaitu bangsa Goth, Islam tidak menerapkan kebijakan represif kepada mereka seperti eksekusi mati atau pembatasan perkembangan komunitas Yahudi.
 
[13]. Di Mesir, saat berdirinya dinasti Fathimiyah pada 969 M, pemerintahan dinasti Syiah ini berkontribusi dalam menghidupkan keilmuan dengan pendirian institusi Al-Azhar yang masih bertahan hingga kini, dan dari kemajuan yang diberikan oleh Fathimiyah itu yang tak banyak diketahui oleh masyarakat umu adalah penemuan mesin cetak, 600 tahun sebelum Guttenberg menemukannya di Eropa.
 
[14]. Ini adalah gambaran penting tentang bagaimana Islam dan toleransi telah menghidupkan semangat intelektual yang mana pihak non-Islam tetap dihargai untuk mengambil peran dalam kemajuan itu, jika selama ini masih banyak umat Islam yang cenderung menyamakan Israel = Yahudi, berarti mereka harus kembali membuka buku sejarah, disana kita bisa menyaksikan beberapa pemikir Yahudi seperti Bahya Ibn Paquda dan Maimonides yang ikut berkarya dan memperkaya khazanah intelektual dibawah otoritas Islam. Sosok Bapak Bangsa seperti Tan Malaka juga pernah memberikan pengakuan dalam pemikirannya tentang kemajuan intelektual Islam itu dalam karyanya, Dari Penjara ke Penjara, menuliskan bahwa seluruh dunia, kawan atau lawan, mengakui keluhuran dan ketinggian kerajaan Islam di Spanyol di abad-13 dan abad-14. Granada, Seville, Cordova adalah pusat perhatian dunia Barat di masa lalu. Sebagaimana halnya dengan London, Paris dan Berlin masa ini. Pemikir besar seperti Ibnu Rusyd, terkenal di Eropa dengan namanya Aeroes dalah sama dengan Aristoteles pada zaman Yunani yang merupakan magnit yang menarik perhatian pemikir dan pelajar Eropa Barat. Pertanian, pengairan, dan pertukangan tak ada taranya di masa itu.
 
[15]. Refleksi yang tercermin dalam bagian sebelumnya di atas adalah keterbukaan Islam terhadap peradaban manapun yang dapat membangkitkan kemajuan. Tidak peduli dari mana asalnya, entah itu Yunani, Mesir, dan Persia yang pagan, keilmuan yang berguna tersebut akhirnya “terislamkan” di tangan para intelektual muslim. Kisah sejarah pembentukan Bait Al-Hikmah contohnya, Islam menghargai keilmuan dari siapa saja yang nantinya juga memberikan kontribusi kepada peradaban Islam itu sendiri. Dari kemajuan intelektual itu, pemerintahan Islam di masa silam sangat dihargai karena toleransinya. Goenawan Moehammad, seraya mengutip dari Al-Kindi menulis bahwa kita tak harus malu mengagumi atau memperoleh kebenaran dari manapun asalnya. Bahkan kalaupun ia datang dari negeri yang jauh dan dari bangsa asing. Semua orang Islam kenal petuah Nabi agar tak gamang mencari ilmu “sampai ke negeri Cina”.
 
[16]. Masih miris kiranya kaum muslimin saat ini jika mendengar apa yang dilakukan oleh gerakan-gerakan kaum ekstrimis. Mereka menyeru bahwa gerakannya adalah usaha memerangi agama lain melalui apa yang mereka klaim sebagai “Jihad” dengan tujuan akhirnya adalah “memuliakan Islam.” Makna “jihad” telah dinistakan sedemikian rupa saat kata tersebut mereka interpretasikan sebagai “Bom Bunuh Diri” atau “Menyerang Polisi”, pada hakikatnya kekerasan hanyalah menyulitkan umat (Islam) keseluruhan dalam berdakwah. Cara pemikiran yang salah itu telah menyebabkan pers luar negeri tidak jarang membuat berita-berita provokatif yang digeneralisasi untuk menydutkan Islam.
 
[17]. Untuk menjauhkan diri dari kekerasan itu akan semakin terlihat pentingnya ilmu (pengetahuan) sebelum melakukan amal (perbuatan), karena pada dasarnya amal manusia adalah buah ilmu dan hasil yang dipetik dari ilmu.
 
[18]. *) Artikel ini adalah tanggung jawab penulis sepenuhnya. Jika ada kritik dan saran, silahkan mengirim surat elektronik ke ggsejarah@gmail.com 
 
Catatan Kaki
1. Naufal, Abdul Razaq, 1987, Al-Quran dan Sains Modern, Bandung : Husaini.Hlm. 132-133.
2. Buchori, Didin Saefudin, Sejarah Politik Islam, Jakarta : Pustaka Intermasa, 2009.Hlm. Hlm. 38.
3. Nasr, Seyyed Hossein, Tiga Madzhab Utama Filsafat Islam : Ibnu Sina, Suhrawardi, dan Ibnu ‘Arabi, Jakarta : IRCiSoD, 2014.Hlm. 11.
4. Ibid Hlm. 9.
5. Freely, John, Cahaya dari Timur : Peran Ilmuwan dan Sains Islam dalam Membentuk Dunia Barat, Jakarta : Elex Media Komputindo, 2011.Hlm. 79.
6. Buchori, Didin Saefudin, Sejarah Politik Islam, Jakarta : Pustaka Intermasa, 2009.Hlm. 94.
7. Freely, John, Cahaya dari Timur : Peran Ilmuwan dan Sains Islam dalam Membentuk Dunia Barat, Jakarta : Elex Media Komputindo, 2011.Hlm. 80.
8. Ibid Hlm. 87-88.
9. Awani, Ghulam Reza, dkk., Islam Iran dan Peradaban, Yogyakarta : RausyanFikr, 2012.Hlm. 40.
10. Haddad, Khalid, 2009, 12 Tokoh Pengubah Dunia, Jakarta : Gema Insani Press.Hlm.25.
11. Rohadi dan Sudarsono, 2005, Ilmu dan Teknologi dalam Islam, Jakarta : Departemen Agama RI.Hlm.10.
12. Yatim, Badri, 1993, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta : Raja Grafindo Persada.Hlm.85.
13. Almirzanah, Syafaatun, 2009, When Mystic Masters Meet : Paradigma Baru dalam Relasi Umat Kristiani-Muslim, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.Hlm.2.
14. Rodenbeck, Max, Kairo : Kota Kemenangan, Tangerang Selatan : PT. Pustaka Alvabet, 2013.Hlm.167.
15. Malaka, Tan, 2014, Dari Penjara ke Penjara, Yogyakarta : Narasi.Hlm.61.
16. Tempo Edisi 16-22 September 2013
17. Maarif, Syafii, 2005, Meluruskan Makna Jihad, Jakarta : Center for Moderate Muslim.Hlm.4.
18. Tim, “Adab Menuntut Ilmu Syar’i,” dalam Buletin At-Taqwa edisi 35.

Lihat Lainnya

IMG-20181021-WA0043

H. JUARSAH PASANG BARET ANGGOTA DIKLAT BANSER NU

# Untuk Angkatan Pertama MUARA ENIM, LhL – Wakil Bupati Muara Enim, H, Juarsah, SH …

[Slideshow "iklan-mati-5" not found]
[Slideshow "slider-9" not found]
error: Content is protected !!